BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS DI KALANGAN REMAJA

Kontributor

Duta Bahasa Jawa Barat

Juru Foto

Dokumen Pribadi

Literasi Di Sekolah: Antitesis Sikap Pragmatis
Oleh Alvian Rivaldhi Y., S.S.


    Sekolah, sebagai lembaga pendidikan, merumuskan berbagai jawaban untuk menjawab banyak keresehan, terutama keresahan yang akan dihadapi siswa di masa depan. Salah satu keresahan tersebut muncul akibat sikap pragmatis yang kini menyerang remaja. Sikap tersebut kini menyerang satu generasi, bukan persoalan individu. Kekuranginginan siswa dalam berproses menjadi hal yang paling lumrah terlihat. Kecepatan akses informasi yang tanpa sekat membuat segala sesuatu menjadi mudah atau bahkan dipermudah dan dipaksakan menjadi mudah.
Hal tersebut bisa menjadi masalah, ketika siswa memasukan nilai-nilai pragmatis pada pembelajaran. Pekerjaan rumah berubah menjadi pekerjaan Wikipedia, sehingga internet bisa menjadi standar pengetahuan, tetapi tidak pada pengayoman. Budaya pragmatis bukan lagi jadi goresan, mungkin galiannya kini amat dalam. Pendidikan adalah kewajiban dan keniscayaan. Menjadi terdidik adalah tujuan. Sekolah, punya peranan yang sangat besar selain keluarga. Antitesis sikap pragmatis pun harus mulai diluncurkan. Dengan kata kunci proses, antitesis pragmatis haruslah menjadi jalan keluar yang siap menghadapi tuntutan zaman.
Salah satu antitesis yang dijajaki sekolah-sekolah adalah proses penciptaan budaya literasi. Budaya literasi menjadi antitesis pragmatis karena hilangnya dunia proses dalam jati diri siswa dapat dipupuk kembali melalui budaya literasi. Minat membaca yang sangat rendah jelas menguntungkan sikap pragmatis. Bahkan, mengutip laman sindonews.com, data terakhir survei 2012, indeks membaca masyarakat Indonesia 0,049. Artinya, tidak sampai satu judul buku dibaca  masyarakat Indonesia per tahun. Dikesampingkannya buku dari keseharian membuat banyak sekolah bergerak cepat dan latah dengan membuat budaya literasi.
Pemerintah kini mewajibkan siswa membaca lima belas menit sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar. Hal ini tentu bentuk niat baik pemerintah dalam memerangi sikap pragmatis siswa dan jelas diharapkan dapat menumbuhkan minat membaca dan menulis di kalangan siswa. Bak gayung bersambut, banyak sekolah yang kini mengaktifkan budaya literasi di lingkungannya.
Dalam penerapannya, lima belas menit membaca buku hanyalah satu dari sekian langkah mengaktifkan budaya literasi. Dalam arti lain, lima belas menit membaca belumlah cukup. Sebab, Setidaknya diperlukan beberapa langkah untuk dapat meningkatkan budaya literasi atau membaca dan menulis di kalangan siswa khususnya remaja.
Sistem Literasi
    Siswa sekolah menengah seharusnya sudah diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan 24 buku dalam dua tahun perjalanan mereka di sekolah. Artinya, setiap bulan mereka hanya harus menyelesaikan satu buku saja. Tahun ketiga adalah tahun mereka bergelut dengan ujian nasional agar integritas sekolah dan kejujuran naik. Oleh karena itu, biarkan di tahun ketiga mereka fokus menghadapi ujian nasional.
    Guru haruslah menjadi filter siswa dalam memilih buku. Guru harus tahu buku apa yang sedang dibaca siswanya. Artinya, guru pun harus mengikuti program literasi. Bahkan, lebih baik jika guru memiliki segudang rekomendasi buku untuk dibaca siswa. Buku-buku nonfiksi atau sastra adiluhung untuk memperkuat logika berpikir bisa menjadi rekomendasi dari guru pada siswanya. Hal tersebut dikarenakan siswa seharusnya bisa dan siap membaca buku dengan tingkatan yang lebih tinggi, atau memicu High Order Thinking (HOT).      
Selain membaca, siswa memiliki tanggung jawab lain, yaitu menulis. Siswa haruslah menuliskan laporan membaca. Membaca dan menulis adalah sebuah paket dalam meningkatkan kemampuan siswa, pula menjadi antitesis seperti yang dibahas pada awal tulisan ini. Laporan membaca yang ditulis siswa pun beragam. Guru bisa memilih pelaporan yang sangat terstruktur seperti resensi, atau laporan-laporan ringan berupa esai juga Y chart yang kini sedang populer. Frekuensi siswa dalam menulis laporan pun dapat dibentuk. Siswa dapat membuat laporan tiap minggunya atau tiap siswa menyelesaikan satu buku. Guru dan siswa haruslah bersepakat untuk hal ini, karena kontrol dan konsistensi menjadi persoalan yang akan muncul.
    Kontrol dari guru, dan konsistensi antarsiswa terutama terkait pelaporan menjadi hal yang sulit dipertahankan. Jika kontrol dan konsistensi buruk, laporan hanya jalan di tempat, bahkan harus berjalan, tergopoh, hingga akhirnya menjadi abu. Siswa menikmati bacaan, tapi tidak dengan menulis. Lantas mereka akan terus alergi dengan menulis.
Budaya literasi yang baru diterapkan haruslah terus mengalami evaluasi dan diberikan rekomendasi demi sebuah perubahan. Proses selanjutnya, setiap individu memiliki keinginan yang sama untuk berubah, namun tidak setiap individu menginginkan perubahan yang halus dan tenang. Hal ini yang menjadi tantangan demi terciptanya budaya literasi. Budaya yang tidak hanya membaca, tetapi mencintai proses sebagaimana mereka mencintai alur lembar per lembar buku yang dibaca.
Salam literasi!

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Duka Ibu Pertiwi (2)

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa

13.05.2020 | oleh Aditya Nugraha