Duka Ibu Pertiwi (2)

Kontributor

Aditya Nugraha

Juru Foto

Imam Sugiarto

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa kesana kemari
Tertahan diri tuk bisa lagi bernaluri

Haruskah kaki-kaki kami berdiri?
Mulai beranjak pada pemberi rezeki
Berkecamuk untuk menghampiri
Tapi lagi-lagi tertahan regulasi

Aku tak bisa menebak Ilahi
Pikirku terbatas pada materi
Menungguku, anak dan istri
Lelah menanti, menunggu mati

Di mana pahlawan-pahlawan berdasi?
Yang dulu jago diplomasi dan orasi
Tapi kini tak wara-wiri, hilang dan mati suri
Negeri ini hanya perlu bakti, bukan lagi janji

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Memoar Lama Untuk Kembali Diingat

Luruhan jingga menjadi abu-abu
Pertanda sendu mengiris pilu
Resah hati menahan rindu
Tiada henti mengucap namamu

Kala langit malam tak lagi berbintang
Kembali teringat masa ketika kita masih berbincang
Ditemani semangkuk

24.04.2020 | oleh Aditya Nugraha