INTERAKSI DAN MAKNA PENGGUNAAN BAHASA SUNDA DALAM MEDIA SOSIAL KALAWARTA TVRI JAWA BARAT: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI

Kontributor

Duta Bahasa Jawa Barat

Juru Foto

Duta Bahasa Jawa Barat

Interaksi dan Makna Penggunaan Bahasa Sunda dalam Media Sosial Kalawarta TVRI Jawa Barat:

Sebuah Studi Fenomenologi

Pradipta Dirgantara
Ikatan Alumni Duta Bahasa Jawa Barat
pos-el: pradipta.dirgantara@gmail.com

ABSTRAK

Perkembangan media sosial memengaruhi kesadaran masyarakat dalam berbahasa Sunda pada ranah literasi digital. Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan sebagian besar penduduk Jawa Barat yang mencapai 42 juta penutur. Media sosial ikut berperan dalam penyebarluasan penggunaan bahasa Sunda di Jawa Barat. Salah satunya melalui program berbahasa Sunda Kalawarta TVRI Jawa Barat yang memiliki media sosial sebagai wadah interaksi antara penyiar dan pemirsanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi dan makna penggunaan bahasa Sunda dalam media sosial program Kalawarta TVRI. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan penelusuran laman Facebook Kalawarta. Hasil penelitian menunjukan interaksi berupa salam, kesan, pesan, kritik sosial, pertukaran informasi daerah tinggal pemirsa, dan sisindiran (puisi terikat Sunda tradisional). Dalam interaksi tersebut sisindiran memiliki porsi 26,5% dan hampir 3% dari total interaksi berupa alih dan campur kode. Pemirsa memaknai interaksi bahasa Sunda sebagai kepedulian terhadap pelestarian budaya Sunda, aktualisasi diri kreatif, kebanggaan, manifestasi rasa memiliki, dan kesenangan berinteraksi sosial. Pemaknaan serupa dialami penyiar Kalawarta dengan penambahan kompetensi dan profesionalisme.

Kata-kata kunci: Interaksi, Makna, Bahasa Sunda, Kalawarta

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi dan alat komunikasi menjadi jembatan bagi individu untuk berpartisipasi dalam dunia modern sekaligus menumbuhkembangkan kesadaran literasi digital. Menurut Martin (2006) literasi digital mencakup kesadaran, sikap, dan kemampuan individu untuk menggunakan alat-alat digital secara layak dalam rangka mengidentifikasi, mengakses, mengatur, mengintegrasikan, mengevaluasi, menganalisis, dan merangkai sumber-sumber digital dan membangun pengetahuan baru sehingga bisa membuat ekspresi media untuk berkomunikasi dalam konteks situasi kehidupan tertentu. Dengan perkembangan informasi dan komunikasi yang begitu pesat, media sosial menjadi alat untuk mengaktualisasikan diri dalam membangkitkan literasi digital. Di sisi lain intensifikasi media juga memiliki dampak perubahan signifikan terhadap aspek sosiokultural melalui diskursus sosial yang terjadi pada masyarakat kini (Carrington dan Robinson, 2007). Salah satunya adalah penggunaan bahasa daerah dalam media sosial yang menjadi semakin intens.

Jawa Barat yang terdiri dari beragam tradisi, seni, dan bahasa memiliki bahasa Sunda sebagai salah satu bahasa daerah yang digunakan sebagian besar penduduknya yang mencapai 42 juta penutur (Muamar, 2016). Bahasa ini termasuk salah satu bahasa daerah Indonesia yang telah dipergunakan sejak berabad-abad termasuk dalam keluarga bahasa Austronesia (Rosidi, 1984: 136 – 138). Perbedaan dialek, kosakata khas, intonasi, dan susunan kalimat ditemukan dalam bahasa Sunda di berbagai daerah di Jawa Barat. Namun begitu, mereka masih bisa memahami satu sama lain.

Program televisi bahasa daerah menjadi media komunikasi dan informasi yang mendukung interaksi tidak langsung dalam penggunaan bahasa Sunda. Dari aspek interaksi, televisi merupakan media komprehensif karena merangkum fungsi audio visual yang memberikan persepsi lebih ekspresif bagi pemirsanya. Salah satu program televisi bahasa Sunda yang tayang di Jawa Barat adalah Kalawarta.

Yang membedakan Kalawarta dengan program lokal lainnya adalah adanya interaksi pemirsa dan penyiar melalui media sosial berupa laman Facebook Kalawarta. Di laman ini pemirsa bisa mengirimkan sisindiran (pantun bahasa Sunda), pesan, salam, informasi, atau keluhan seputar isu yang terjadi di sekitarnya. Untuk memantik interaksi, penyiar membuat tajuk singkat di laman Facebook Kalawarta mengenai berita yang akan disampaikan sebelum jam tayang dimulai. Pemirsa merespon tajuk ini dan diterima sebelum Kalawarta tayang. Biasanya komentar pemirsa dibacakan di tengah siaran berita melalui segmen singkat. Penyiar memantik respon pemirsa dengan menulis sisindiran di laman Facebook Kalawarta dan menyelingi berita dengan sisindiran yang mereka buat baik saat menit awal, jeda iklan, maupun akhir tayangan berita.

Interaksi media sosial dalam kanal berita bisa menjadi kurasi digital. Menurut Peter dan McDougall (2017:67) kurasi ini melingkupi pengumpulan, pengaturan, pengatalogan, dan eksibisi percakapan yang berhubungan dengan informasi awal yang disajikan kanal berita utama. Kajian media dan bahasa daerah dalam konteks literasi dan kebinekaan sudah banyak dilakukan. Dalam penelitiannya, Mahsun (2015) fokus terhadap peran bahasa daerah dalam kebinekaan sebagai pemerkukuh ikatan kebangsaan. Sementara itu Suryana (2017) mengkaji konstruksi media sosial mengenai berita kebudayaan Sunda pada program berita daerah. Keduanya menilik bahwa baik bahasa daerah dan media memiliki keterhubungan dalam memberikan kontribusi pemahaman keberagaman bangsa Indonesia dengan pemersatu yang sama. Pada aspek media penyiaran, Garmianti (2019) mendeskripsikan strategi penyiaran program berita bahasa Sunda pada media televisi lokal. Ketiga kajian tersebut selaras dengan penelitian Firdaus dan Setiadi (2015) yang menekankan pada pelestarian bahasa Sunda dalam upaya mengokohkan budaya nasional. Masih sedikit kajian yang melihat interaksi penutur Sunda dan maknanya dalam program televisi daerah dibandingkan dengan kajian yang fokus terhadap peran media dan bahasa daerah dalam konteks literasi digital.

Penelitian mengenai penggunaan bahasa Sunda dalam media sosial program televisi daerah urgen dilakukan untuk merefleksikan kesadaran penutur Sunda dalam media sosial. Hasil penelitian ini bisa menjadi salah satu dasar rekomendasi pembuatan program televisi daerah khususnya bahasa Sunda sebagai media interaksi di Jawa Barat dalam rangka meningkatkan literasi digital.

Penelitian ini menggunakan teori interaksi simbolis. Secara sederhana interaksi berarti perbuatan saling melakukan aksi yang memengaruhi satu sama lain. Dalam penelitian Gabatz et al. (2017) interaksi dideskripsikan sebagai alat yang digunakan dalam sosialisasi primer individual yang berperan fundamental dalam perkembangan manusia. Melalui interaksi inilah individu tersebut menemukan dunia di sekitar mereka dan belajar bersosialisasi.

Mead (2015) mengungkapkan bahwa individu adalah makhluk yang bersifat sensitif, aktif, kreatif, dan inovatif. Perkembangan diri sejalan dengan sosialisasi individu dalam masyarakat, yakni merujuk pada kapasitas dan pengalaman manusia sebagai objek bagi diri sendiri. Hal ini akan berujung pada kesadaran diri yang baru muncul dalam proses interaksi sosial. Siregar (2016:104) menjelaskan bahwa teori ini tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi karena pada awalnya makna tidak ada artinya sampai akhirnya dikonstruksi oleh individu melalui interaksi untuk menciptakan makna yang disepakati bersama. Sementara menurut Aksan et al. (2009) teori ini melibatkan proses interpretasi aksi yang dilakukan individu karena makna simbolis terbentuk berbeda-beda tiap individu. Baghdadi (2009:12) menjabarkan interpretasi aksi dalam teori ini berpusat pada tiga hal utama: 1) manusia berperilaku terhadap hal-hal yang bermakna bagi mereka; 2) pemaknaan hal-hal di seputar manusia diturunkan dari interaksi sosial antarindividu yang menjadi bagian kehidupan mereka; dan 3) makna dimodifikasi melalui proses interpretatif dalam benak individu saat berhadapan dengan individu atau hal lain yang ditemuinya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi hermeneutika. Fenomenologi adalah pendekatan yang menggambarkan arti sebuah pengalaman hidup untuk beberapa orang tentang sebuah konsep atau fenomena melalui eksplorasi kesadaran pengalaman manusia (Creswell, 2009). Sementara hermeneutika mempelajari tentang interpretasi makna. Fenomenologi hermeneutika cocok untuk riset sosial secara kualitatif dengan desain penelitian khusus yang dibuat berdasarkan perspektif tradisi, konstruksi, simbol, dan interaksi sosial (Babrow & Mattson, 2011: 25 – 30). Dengan menggunakan fenomenologi hermeneutika penyiar sebagai penyampai pesan dan pemirsa sebagai penerima pesan dalam media televisi ditempatkan sebagai sumber kesadaran dan pengetahuan sehingga tak hanya melihat interaksi yang terjadi secara kebahasaan, namun juga menilik makna yang terbentuk di antara keduanya. Ghony dan Almanshur (2012:125) menuliskan bahwa fenomenologi menekankan pada deskripsi berbagai aspek subjektif dari perilaku manusia agar dapat memahami bagaimana dan makna apa yang mereka bentuk dari kegiatan sehari-hari dengan latar alami yang tak lepas dari kesehariannya.

Untuk memperoleh data yang menyeluruh, penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam terhadap penyiar dan pemirsa sebagai subjek penelitian yang dilengkapi dengan menganalisis dinding komentar Facebook Kalawarta selama 48 hari. Wawancara mendalam menggali aspek persepsi, kebiasaan, perasaan, dan respon narasumber terhadap Kalawarta. Pemilihan empat narasumber menggunakan sampling berhaluan berdasarkan aktivitasnya di laman Facebook Kalawarta. Wawancara berguna untuk melihat makna sedekat mungkin pada diri subjek (Smith, 2015). Sementara analisis dokumen dilakukan untuk menggambarkan interaksi yang terjadi.

Setelah terkumpul, data dianalisis dengan klasifikasi deskripsi makna (cluster of meaning). Bagian ini fokus pada deskripsi tekstural dan struktural dari hasil wawancara. Menurut Denzin dan Lincoln (1988:84), deskripsi tekstural fokus pada apa yang dialami subjek penelitian sebagai kejadian empiris dan objektif, sementara deskripsi struktural fokus pada bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya yang bersifat subjektif berisi harapan, pendapat, penilaian, perasaan, dan respon emosi lainnya terhadap sebuah pengalaman. Dengan begitu, fenomenologi mampu mengeksplorasi makna kontekstual terhadap pengetahuan kondisional dari satu fenomena yang diteliti (Cresswell: 2009).

Setelah mengklasifikasikan deskripsi, analisis berlanjut pada interpretasi interaksi dan makna. Interaksi dinilai melalui teori interaksi simbolis melalui bahasa dan komentar dari laman Facebook Kalawarta. Terakhir, makna interaksi didapatkan sebagai isi penting pengalaman kesadaran dalam pengalaman-pengalaman individu yang implisit melalui analisis interpretif. Teori interaksi simbolis juga memeriksa makna yang terjadi dalam satu ruang lingkup interaksi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan dimulai dengan mengklasifikasikan pernyataan hasil wawancara ke dalam deskripsi tekstural dan struktural. Setelah itu, pembahasan berlanjut pada interpretasi interaksi dan pemaknaannya.

  1. Deskripsi Tekstural dan Struktural

Dalam media televisi pada umumnya pemirsa mengambil posisi sebagai penerima pesan, namun dalam ruang interaksi media sosial pemirsa memiliki posisi sebagai penerima pesan dalam ruang yang dapat didengar oleh pemberi pesan. Pemirsa Kalawarta yang disebut wadya balad Kalawarta ini dapat menyampaikan responnya baik berupa pernyataan setuju atau ketidaksetujuan melalui ruang interaksi laman Facebook. Hasil wawancara dengan pemirsa diringkas dalam Tabel 1.

Tabel 1

Deskripsi Tekstural dan Struktural Pemirsa

               

 

Pemirsa 1 (aktif)

 

Pemirsa 2 (pasif)

 

1. Saya menyempatkan menonton saat di rumah dan di sela-sela bekerja

2. Selalu berusaha membuat salam-salam dan sisindirian

3. Laman Facebook Kalawarta menambah pertemanan

4. Bahasa penyiar mudah dimengerti dan ramah

5. Memerlukan waktu lama membuat sisindiran dan mengirimkan komentar di laman Facebook

1. Saya kadang-kadang memeriksa laman Facebook Kalawarta dan memberikan komentar

2. Jam tayang Kalawarta bentrok dengan jam kerja

3. Menonton saat akhir pekan

4. Ada beberapa kata bahasa Sunda yang tidak saya mengerti

5. Penggunaan bahasa Indonesia membantu memahami konteks berita

6. Berusaha belajar bahasa Sunda agar bisa berinteraksi lebih banyak

Tekstural

 

 

Struktural

1. Saya bangga berbahasa Sunda

2. Merasa lebih akrab saat berinteraksi

3. Berinteraksi di laman Facebook Kalawarta membuat saya senang

4. Berita tentang bencana dan kriminal membuat sedih

5. Sedikit kecewa saat kiriman di laman Facebook tidak dibacakan

6. Semangat melestarikan budaya Sunda

7. Menyukai sisindiran yang lucu dan jenaka

1. Saya bangga berbahasa Sunda

2. Walau sulit, bahasa Sunda itu bagian dari budaya saya

3. Senang membaca komentar pemirsa lainnya

4. Tertarik mengobrol dengan bahasa Sunda

5. Gugup saat membuat sisindiran

6. Senang jika komentar saya di laman Facebook dibacakan penyiar

7. Senang bisa merespon berita yang ditonton

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa media sosial menjadi ruang pemirsa untuk berinteraksi dalam televisi lokal. Interaksi ini membawa kesadaran yang dimaknai pemirsa melalui beragam macam deskripsi struktural. Dalam hal ini pemirsa 1 merasakan pengalaman yang lebih intens sehingga menumbuhkan pemaknaan rasa bangga, akrab, dan emosional gembira dan sedih. Sementara itu pemirsa 2 memiliki perspektif yang berbeda dengan kemampuan bahasa Sunda yang tidak setara dengan Pemirsa 1 sehingga Pemirsa 2 mengalami kesulitan dalam memahami bahasa Sunda. Namun begitu keduanya tetap merasa bangga bisa berinteraksi di laman Facebook Kalawarta.

Deskripsi pengalaman kedua pemirsa memiliki perbedaan dengan pengalaman penyiar yang hasilnya disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2

Deskripsi Tekstural dan Struktural Penyiar

            Subyek

 

Deskripsi

 

Penyiar 1 (aktif)

 

Penyiar 2 (pasif)

 

 

 

 

 

 

 

Tekstural

1. Saya memikirkan sisindiran dan komentar yang harus dibuat sebelumnya

2. Sisindiran memerlukan kreativitas

3. Perlu menyaring sisindiran dan komentar pemirsa yang di luar konteks

4. Menggunakan bahasa Indonesia saat terpaksa

5. Berusaha mengikuti standar operasional prosedural siaran

6. Terbiasa berbahasa Sunda

7. Tujuh item berita biasanya disampaikan  dalam 30 menit dengan segmen singkat laman Facebook

1. Ada banyak kosakata bahasa Sunda dalam kalimat redaksional berita

2. Penggunaan bahasa Indonesia saat terpaksa membantu saya menyampaikan berita

3. Lebih mudah menggunakan kalimat sendiri dalam menyampaikan berita

4. berusaha mengikuti standar operasional prosedural siaran

5. Interaksi dengan pemirsa membuat saya mempersiapkan materi siaran lebih matang

 6. Berita yang disampaikan berjumlah 5-7 item

 

 

 

 

 

 

 

Struktural

1. Interaksi di laman Facebook Kalawarta membuat saya merasa terhubung dengan Pemirsa

2. Menyapa pemirsa penting dan menyenangkan

3. Bangga melestarikan bahasa Sunda

4. Kecewa menerima sedikit komentar di laman Facebook

5. Saya merasa semangat berbahasa Sunda dan

melestarikan budaya Sunda

6. Saya percaya diri berinteraksi dengan pemirsa

1. Interaksi dengan pemirsa penting dalam melestarikan bahasa Sunda

2. Bahasa Sunda penting untuk dipelajari dan dilestarikan

3. Berbahasa Sunda menarik perhatian saya

4. Perlu meningkatkan kompetensi bahasa Sunda

5. Gugup saat membuat sisindiran yang agak panjang dan rumit

6. Senang berbagi berita dan membaca komentar pemirsa

7. Tandem siaran membuat saya nyaman berbahasa Sunda

 

Berdasarkan Tabel 2 pernyataan yang dimiliki penyiar 1 dan 2 memiliki banyak kesamaan karena memiliki tanggung jawab sebagai pengantar pesan dibandingkan dengan pemirsa. Wawancara dengan penyiar menunjukan bahwa kompetensi penyiar dalam mengomunikasikan berita cukup penting. Namun tidak lebih dari 10% penyiar TVRI Jawa Barat berlatar belakang pendidikan bahasa maupun sastra Sunda. Meski demikian, semua penyiar Kalawarta memiliki kemampuan dasar berbahasa Sunda mengingat bahasa Sunda menjadi bahasa ibu mereka.

Interaksi

Dalam 48 hari ada 294 komentar yang disampaikan pemirsa di laman Facebook Kalawarta berupa salam, kesan, pesan, kritik sosial, pertukaran informasi daerah, dan sisindiran. Durasi 48 hari dijadikan dasar pengambilan yang cukup karena karena dalam 60 hari dan 90 hari, data sudah menjadi jenuh dan sama.

Komentar ini berkenaan dengan cuaca, lalu lintas, berita, dan informasi lainnya yang terjadi di daerahnya. Satu komentar bisa memuat kombinasi salam, pesan, kritik, dan sisindiran. Hampir 97,6% komentar memuat cuaca, lalu lintas, respon terhadap konten berita, dan informasi lainnya. Sisanya kurang dari 3% berupa alih dan campur kode. Dari jumlah komentar, 26,5% di antaranya mengandung sisindiran. Sementara itu hanya 0,34% komentar yang menggunakan bahasa Indonesia secara penuh.

Komentar yang berisi alih kode ini salah satunya adalah ‘jadi sedih dengerinnya, semoga lekas surut banjir dari bencana alamnya’. Komentar ini terkait banjir yang melanda beberapa daerah di Jawa Barat akibat hujan deras dan sistem drainase yang jelek. Komentar ini menggambarkan bahwa pemirsa mengerti maksud penyampaian bahasa Sunda yang diutarakan dalam Kalawarta dan ingin berinteraksi, tapi tak bisa bertutur bahasa Sunda. Bahasa Indonesia menjadi jembatan dalam situasi ini. Situasi dan budaya menjadi konteks penting diperhatikan dalam alih kode pada laman Facebook Kalawarta. Hal ini sesuai dengan penjelasan Khak (2014:101) bahwa dalam media teks, selain unsur bahasa, sebuah teks mempunyai dua unsur utama, yaitu konteks budaya dan situasi.

Alih dan campur kode dalam konteks interaksi laman Facebook Kalawarta menggambarkan usaha menggunakan bahasa Sunda sesuai dengan tingkatannya. Tingkatan bahasa Sunda dikenal dengan undak usuk basa yang terdiri dari lemes (halus), loma (sedang), kasar, dan sangat kasar. Undak usuk basa menjadi satu ciri bahasa Sunda umum yang diperkembangkan melalui pengajaran sekolah dengan memerhatikan tingkat-tingkat sosial pemakai bahasa dalam masyarakat. Namun dalam interaksi ini, undak usuk bahasa tidak menjadi atribut paling penting, melainkan pesan yang disampaikan dan diterima. Hal ini juga sesuai dengan pemikiran Rosidi (1984) bahwa bahasa Sunda pada awalnya tidak mengenal tingkatan seperti yang tampak dalam naskah-naskah tua yang ditulis dalam huruf Sunda sebelumnya. Tingkatan ini mulai terlihat dalam naskah-naskah setelahnya yang ditulis dalam huruf Jawa, Arab, yaitu sebagai pengaruh bahasa Jawa, setelah Tanah Sunda dijajah Mataram.

Salam, kesan, dan pesan menjadi kiriman yang paling banyak diterima karena mudah dilakukan dan kontennya tidak selalu serius, malah cenderung guyon dan jenaka. Sementara itu kritik sosial dan pertukaran informasi daerah tinggal pemirsa jarang sekali ditemukan karena kontennya yang lebih serius. Sifat berita yang ditayangkan dalam Kalawarta tidak selalu memantik kritik sosial karena terdiri dari 80% berita utama dan 20% berita ringan, kisah, dan ketertarikan manusia.

Makna

Berdasarkan hasil wawancara dan klasifikasi deskripsi, interaksi pemirsa dalam menggunakan bahasa Sunda dimaknai sebagai kepedulian terhadap pelestarian budaya Sunda, aktualisasi diri kreatif, kebanggaan, manifestasi rasa memiliki, dan kesenangan berinteraksi sosial. Menurut teori interaksi simbolis, pemaknaan ini merupakan proses sosial dari pengalaman dan tingkah laku yang muncul sebagai respon terhadap aksi orang lain. Proses sosial yang diwujudkan dalam interaksi yang melibatkan komunikasi mendorong pemunculan kesadaran baru dalam pengalaman pemirsa.

Kesadaran tidak selalu dirasakan dan eksplisit terekspos dalam pemaknaan pengalaman interaksi laman Facebook Kalawarta. Mekanisme pemaknaan hadir dalam tindakan sosial sebelum kehadiran kesadaran terhadap pemaknaan muncul. Komentar yang ada di laman Facebook Kalawarta menyiratkan bahwa komunikasi dan bahasa tidak hanya menyimbolkan sebuah situasi atau objek yang sudah ada sebelumnya, tetapi juga mempertegas keberadaan situasi atau objek tersebut. Dalam hal ini bahasa Sunda menjadi bagian diri yang dimiliki, dibanggakan, dan diaktualisasikan pemirsa sebagai simbol interaksi dan mempertegas keberadaan bahasa Sunda itu sendiri.

Sisindiran dalam laman Facebook Kalawarta membentuk hubungan emosional dengan penyiar dan program Kalawarta. Sisindiran sebenarnya memiliki keleluasaan dalam penggunannya. Idealnya sisindiran terikat pada dua baris cangkang dan dua baris isi. Baris pertama berisi rincik rincang-rincik rincang, sementara baris ke tiga berisi sidik pisan-sidik pisan. Selain itu, pantun ini juga mengikat dengan merujuk kosakata delapan suku kata cangkang tiap baris dan delapan suku kata isi yang ritmis. Salah satu contoh sisindiran yang sesuai dan tidak sesuai dikirim dua narasumber seperti yang tertera pada Tabel 3.

Tabel 3

Kiriman Sisindiran Narasumber

Sisindiran sesuai aturan (1)

Sisindiran tak sesuai aturan (2)

Rincik rincang rincik rincang/ Majalaya Sukajadi/ Sidik pisan sidik pisan/ Kalawarta nomor hiji//.

Rincik rincang rincik rincang/ mang Dadan ka Padalarang/ sidik pisan sidik pisan/ Kalawarta nu urang sarerea.

Rincik rincang rincik rincang/ Di Cirata aya kumang/ Sidik pisan sidik pisan/ Kumaha baraya damang?//

Rincik rincang rincik rincang/ Kalawarta tayang tiap hari/ Sidik pisan sidik pisan/ Apa kabar Kalawarta tiap hari?

 

 

Tak sedikit yang merasa kebakuan sisindiran menyulitkan sebagian pemirsa. Namun begitu, penyiar Kalawarta tidak mengharuskan pemirsa untuk mengikuti ketentuan sisindiran ini. Pemirsa yang mengirimkan sisindiran dengan pemahamannya sendiri juga diikutsertakan dalam pembacaan sisindiran sebagai proses pembelajaran para pemirsa seperti yang tertera pada Tabel 3 kolom 2. Dari segi bahasa Kalawarta menggunakan bahasa Sunda campuran jenis loma (sedang) dan lemes (halus) yang mengedepankan tutur lisan sehari-hari dan dikenal menunjukan keakraban seperti yang tertera pada Tabel 3 baris 2. Penelitian Ramdhan (2012) menunjukan bahwa tingkatan bahasa Sunda loma bisa menunjukan keakraban terhadap satu sama lain. Keakraban ini bisa juga ditunjukan dengan adanya alih dan campur kode seperti yang tertera pada Tabel 3 kolom 2 baris 2. Keduanya terjadi untuk penyampaian berita yang lebih efektif. Hal ini menjadi sebuah modifikasi interaksi tatap muka menjadi interaksi tak tatap muka yang seringkali disebut interaksi parasosial. Interaksi parasosial lumrah dalam fenomena interaksi simbolis karena menggarisbawahi komunikasi tidak hanya sebagai komunikasi masa tetapi juga memahami komunikasi media sebagai sebuah perkembangan dan modifikasi komunikasi tatap muka (Krotz, 2009:25).

Proses sosial yang berhubungan dengan respon pemirsa terhadap berita yang berupa komentar dan sisindiran mendorong pemaknaan muncul ke permukaan untuk disadari. Makna tidak diraih begitu saja secara fundamental sebagai sebuah kondisi kesadaran atau sebagai satu set hubungan terorganisasi yang berada di luar pemirsa, melainkan sebuah pengalaman dalam diri mereka sendiri. Oleh karena itu pemaknaan membutuhkan waktu dan intensitas interaksi yang terus-menerus bagi individu yang berbeda.

Makna bahasa Sunda bagi penyiar dalam interaksi Kalawarta melingkupi hal yang serupa dengan pemirsa dengan tambahan makna kompetensi dan profesionalisme. Bagi penyiar, laman Facebook Kalawarta menjadi lebih dari sekadar ruang interaksi, yaitu ruang aktualisasi diri, kompetensi pembawa pesan, dan profesionalisme pekerjaan. Dalam penelitian Ellison et al. (2011) dijelaskan bahwa pola interaksi Facebook semakin bergerak melebihi dikotomi komunikasi dunia maya dan nyata yang malah merangkul kanal dunia maya ke dalam lingkungan komunikatif terintergrasi yang berhubungan dengan karir dan pekerjaan. Dalam hal ini kompetensi penyiar dalam pekerjaannya berpengaruh terhadap komunikasi di laman Facebook Kalawarta.

 

SIMPULAN

Interaksi antara pemirsa dan penyiar dalam program televisi Kalawarta memiliki beragam makna penggunaan bahasa Sunda bagi penuturnya. Interaksi ini mengindikasikan dunia simbolis yang menggambarkan pengalaman, pikiran, hubungan emosional, dan kebutuhan penuturnya. Ruang interaksi dalam Kalawarta menjadi representasi komunikasi sosial yang mendorong penuturnya melihat dan berpikir tentang alam sekitarnya serta lingkungan sosialnya. Hal ini menuntun kesadaran literasi digital mereka. Inilah yang menjadi salah satu upaya dalam melangsungkan kehidupan berbahasa Sunda melalui media televisi yang terus masih terlihat hingga kini. Oleh karena itu program lokal televisi (atau radio) daerah dengan ruang interaksi media sosial bisa menjadi salah satu upaya meningkatkan literasi digital dan memperkuat kebinekaan bahasa daerah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aksan, Nilgun, Buket Kisac, Mufit Aydin, dan Sumeyra Demirbuken. (2009). Symbolic Interaction Theory. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 1(1): 92 -94.

Babrow, Austin S. dan Marifran Mattson. (2011). Building Health Communication Theories in 21st Century. Dalam Teresa L. Thompson (ed.), The Routledge Handbook of Health Communication. (hlm.18-35).

Baghdadi, Leila. (2009). Symbolic Interactionism: The Role of Interaction in The Israeli-Palestinian Conflict. Washington DC: Georgetown University.

Carrington, Victoria, dan Muriel Robinson. (2009). Digital Literacies: Social Learning and Classroom Practices. SAGE: London.

Creswell, J. W. (2009). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches 3rd Edition. Los Angeles: Sage Publications.

Denzin, Norma K. dan Yvonna S.Lincoln. (1988). Strategies of Qualitative Inquiry. Thousand Oaks: Sage Publications

Ellison, N., Steinfield, C., dan Lampe, C. (2011). Connection strategies: Social capital implications of Facebook-enabled communication practices. New Media Society, 13(6), 873-892. doi:10.1177/1461444810385389

Firdaus, Asep, dan Setiadi, David. (2015). Pelestarian Bahasa Daerah (Sunda) dalam Upaya Mengokohkan Kebudayaan Nasional. Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Gabatz, RIE., Schwartz, E., Milbrath, VM., Zilmers, JGV., Neves, Eliane T. (2017). Attachment Theory, Symbolic Interactionism, and Grounded Theory: Articulating Reference Frameworks for Research. Santa Maria: Universidade Federal de Pelotas. http://dx.doi.org/10.1590/0104-07072017001940017

Garmianti, Mia. (2019). Strategi Penyiaran Program Berita bahasa Sunda pada Media Televisi: Studi Deskriptif pada program Tanggara Pasundan di Bandung TV. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.

Ghony, M. Djunaidi dan Fauzan Alamanshur. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Khak, M. Abdul. (2014). Struktur dan Pengembangan Berita Utama Surat Kabar Berbahasa Indonesia. Metalingua, 12 (1): 97-113.

Krotz, F. (2009). Bridging the Gap Between Sociology and Communication Science: Communication as Social Action. Meaningful Media: Communication Research on the Social Construction of Reality; To Honour Karsten Renckstorf's Academic Career, 21-36.

Mahsun. (2015). Merajut Kebinekaan Bahasa Sebagai Pemerkukuh Ikatan Kebangsaan. Mataram: Universitas Mataram.

Martin, A. (2006). Digital Literacy Needed in an ‘e-permeated’ World: Progress Report of DigEuLit Project. Elearning Europa.

Muamar, Aam. (2016). Mempertahankan Eksistensi Bahasa Sunda. Bandung: Pikiran Rakyat.

Mead, Geroge Herbert. (2015). Mind, Self, and Society: The Definitive Edition. Chicago: University of Chicago Press.

Potter, John, dan julian McDougall. (2017). Digital Media, Culture, and Education: Theorising Third Space Literacies. Palgrave Macmillan: London.

Rosidi, Ajip. (1984). Ciri-ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda. Dalam E. Ekadjati (ed.), Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. (hlm. 136-142)

Siregar, Nina Siti Salmaniah. (2016). Kajian Tentang Interkasionisme Simbolis. Medan: Universitas Medan Area

Smith, Jonathan A. (2015). Qualitative Psychology: A Practical Guide to Research Methods. London: Sage Publisher.

Suryana, Drean Priatama. (2017). Studi Konstruksi Sosial Media mengenai Berita Kebudayaan Sunda pada Program Berita Kalawarta TVRI Stasiun Jawa Barat. Bandung: Universitas Komputer Indonesia. 

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Duka Ibu Pertiwi (2)

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa

13.05.2020 | oleh Aditya Nugraha