Ragam Bahasa Di Indonesia Sebagai Unsur Kebinekaan

Kontributor

Duta Bahasa Jawa Barat

Juru Foto

Dokumen Pribadi

    Ragam Bahasa Di Indonesia Sebagai Unsur Kebinekaan

  oleh Azzhara Aninda Putri

      Bahasa, telah menjadi unsur penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Bahasa, merupakan pondasi dimana struktur kemasyarakatan terbangun. Bentuknya yang terus mengalami perubahan, mengikuti alur perubahan sosial dan kepemerintahan di satu lingkungan masyarakat tertentu, telah menyebabkan terjadinya perbedaan karakteristik antar satu bahasa daerah dengan bahasa daerah yang lain. Seiring dengan perubahan sosial dan kepemerintahan yang pernah terjadi, tentunya ada banyak sekali nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang turut dibawa dari satu karakteristik masyarakat ke dalam bahasa yang dibentuknya. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa keragaman bahasa yang terjadi juga turut menimbulkan keragaman karakteristik dan kepribadian antar satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain.

            Indonesia, merupakan salah satu negara dengan keragaman wilayah dan masyarakat yang sangat tinggi. Keragaman wilayah dan masyarakat ini menciptakan banyak keragaman-keragaman lain seperti, bahasa, kesenian, tempat tinggal, dan lain-lain. Atas dasar tersebutlah, maka timbul keinginan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa, sebagai satu bahasa yang dimengerti oleh setiap orang dimanapun kita memijakkan kaki, sebagai bahasa yang diharapkan mampu memperkuat dan mempersatukan masyarakat. Sayangnya, dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang wajib dimengerti setiap orang, bukan berarti permasalahan selesai sampai disana.

            Bahasa Indonesia tentunya penting dipelajari demi terwujudnya pemahaman budaya antar masyarakat juga sebagai pemersatu visi bangsa. Namun, seiring dengan dipelajarinya bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, sedikit demi sedikit posisi bahasa daerah mulai tergantikan. Penggunaannya yang semakin sedikit dapat mengakibatkan bahasa daerah menghilang dan malah tidak dikenal sama sekali. Tentu kita sebagai individu yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia perlu mengkhawatirkan permasalahan tersebut. Pasalnya, kesatuan Indonesia bukan terwujud dari sesuatu yang seragam, melainkan keberagaman. Karena keberagaman, kita merasa perlu diadakannya musyawarah bersama untuk menyatukan tujuan dan mencapainya bersama-sama. Keberagaman merupakan sumber ilmu pengetahuan dan dengan hilangnya keberagaman suatu bangsa maka hilang pula sumber ilmu pengetahuan bangsa tersebut.

            Selanjutnya, tatkala bahasa daerah mulai dilupakan, maka dengan kata lain dilupakan pula nilai-nilai kearifan lokal yang telah dibangun sejak zaman dahulu. Sebagai contoh, bahasa sunda dan bahasa jawa yang di dalamnya terdapat undak usuk basa atau tata bahasa yang dipisahkan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, seumur, dan lebih muda. Undak usuk basa tersebut tidak ada dalam istilah bahasa Indonesia, dan secara langsung memberi nasihat bahwa ada tata krama yang berbeda ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

            Terlebih lagi, ketika marak sekolah-sekolah swasta global dibangun, bahasa daerah malah tidak diajarkan di sebagian besar sekolah-sekolah tersebut. Pada kasus demikian, bukan hanya bahasa daerah, tetapi bahasa Indonesia juga turut terancam penggunaannya karena tergantikan oleh bahasa Inggris yang seringkali dijadikan bahasa utama di sekolah-sekolah swasta global. Sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya, para orangtua juga banyak yang tidak lagi berbicara dalam bahasa daerah kepada anak-anak mereka, bahasa Inggris lebih diutamakan untuk dapat dikuasai. Anak-anak era millenial banyak yang tidak lagi tumbuh dengan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Stereotip terus menyebar dari generasi ke generasi bahwa bahasa daerah hanya dipakai oleh orang-orang tua sehingga dianggap bukan masanya lagi berbicara dalam bahasa tersebut.

            Indonesia adalah negara dengan tujuan wisata yang memiliki keindahan tersendiri untuk menarik wisatawan mancanegara, dan bukankah tidak masuk akal jika kita memaksakan diri mengadaptasikan diri ke dalam budaya mancanegara tersebut. Seharusnya malah sebaliknya, kita sebagai bangsa Indonesia memperlihatkan nilai-nilai identitas yang kita punya, sehingga orang lain turut serta mempelajarinya bersama-sama. Sekarang, keberadaan kelas-kelas BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) sudah cukup populer. Alangkah lebih baik jika bahasa daerah serta nilai-nilainya turut diajarkan pula dalam kelas-kelas tersebut. Hal demikan dapat pula memberi dampak pada penggunaan bahasa daerah oleh warga Indonesia itu sendiri. Mereka tidak akan lagi menganggap bahasa daerah sebagai bahasa sampingan yang penggunaannya terbatas hanya untuk orang-orang tua, tetapi juga dipelajari oleh masyarakat mancanegara yang bertandang ke Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural, maka sudah seharusnya jika masyarakatnya turut beradaptasi menjadi warga global. Namun bukan berarti kita harus menyeragamkan diri dengan orang lain, dengan mengaplikasikan bahasa asing sebagai  nilai utama dan pedoman hidup. Kita terlena dengan perubahan yang ditawarkan globalisasi dan lupa kemana seharusnya diri ini pulang. Kita secara langsung mengasingkan diri dan hilang ke dalam hingar bingar kemegahan kancah Internasional. Padahal, bahasa Indonesia adalah bahasa yang memberi kita identitas, dan bahasa daerah merupakan karakteristik penunjuk dimana kita dibesarkan dan kembali pulang.

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Duka Ibu Pertiwi (2)

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa

13.05.2020 | oleh Aditya Nugraha