Revitalisasi Literasi Pada Generasi Muda

Kontributor

Duta Bahasa Jawa Barat

Juru Foto

Dokumen Pribadi

Revitalisasi Literasi Pada Generasi Muda

oleh Imam Akhmad


Minat baca masyarakat Indonesia sungguh minim yaitu baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 orang hanya ada satu orang saja yang mempunyai minat baca yang tinggi. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca buku nol sampai satu buku per tahun. Kondisi tersebut lebih rendah dibandingkan masyarakat di beberapa negara anggota ASEAN lainnya yang membaca dua sampai tiga buku per tahun. Lebih rendah lagi apabila dibandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun dan warga Jepang yang membaca 10-15 buku per tahun. Tingkat literasi kita juga hanya berada pada peringkat 64 dari 65 negara yang disurvei (Republika, 12 September 2015).
Minat baca yang rendah ternyata bertolak belakang dengan minat nonton yang begitu tinggi. BPS memberikan data bahwa jumlah rata-rata waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari, di Amerika yang hanya 100 menit per hari, dan di Kanada yang hanya 60 menit per hari (Republika, 12 September 2015).
Setali tiga uang, dalam situs resminya, Kemkominfo menjelaskan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang yang 80% di antaranya adalah anak muda. Artinya, mayoritas anak muda di Indonesia justru lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gawai dengan mengakses internet daripada melakukan kegiatan literasi yaitu membaca dan menulis.
Di Indonesia, kegiatan membaca dan menulis dianggap kurang penting. Padahal apabila kita melihat sejarah perkembangan negara-negara di dunia, salah satu kegiatan yang digalakan adalah membaca dan menulis. Seperti contoh, di Inggris dibentuk suatu lembaga bernama National Literacy Trust yang bertugas mempromosikan budaya literasi kepada generasi muda dan dewasa. Hal itu menandakan bahwa pemerintah Inggris sebagai salah satu contoh negara besar peduli terhadap literasi. Berbicara kemajuan suatu bangsa, ternyata kita tidak harus berbicara suatu hal yang berat terlebih dahulu. Kita bisa membicarakan suatu hal ringan yang terkadang dianggap sepele, tetapi sebenarnya begitu penting. Hal itu bernama Literasi yaitu  membaca dan menulis.
Membudayakan Literasi di Sekolah dan Kampus
Literasi perlu dibudayakan, salah satu tempat yang tepat yaitu di sekolah dan kampus sebagai tempat beraktivitasnya para generasi muda. Realitasnya, pembelajaran membaca dan menulis yang dahulu merupakan pelajaran pokok, kini kurang mendapat perhatian yang serius dalam pendidikan kita.  Pembelajaran lebih terfokus pada materi-materi teoritik yang bersifat kognitif semata.
Gerakan Literasi yang disosialisasikan baru-baru ini menjadi angin segar bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan begitu, semua penggiat harus berkomitmen untuk menggalakan gerakan literasi tersebut. Pihak sekolah dan kampus harus mendesain beberapa kegiatan sebaik mungkin agar literasi dapat membudaya.
Memang mayoritas anak muda kurang meminati membaca dan menulis karena hal tersebut dianggap membosankan dan tidak begitu penting. Anggapan tersebut keliru karena membaca dan menulis memilki banyak manfaat positif.  Membaca dan menulis merupakan cara yang efektif melatih sikap kritis dan kedewasaan pola pikir. Selain itu, dengan rajin membaca dan menulis, kita sedang berusaha untuk berpikir secara sistematis.

Ketika siswa menulis puisi tentu siswa akan membaca lebih dalam mengenai puisi-puisi Indonesia, struktur puisi yang baik, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan puisi. Akhirnya, perlahan siswa senang puisi dan akan menulis puisi dengan baik. Hal tersebut sangat bermanfaat karena siswa akan terlatih berpikir kreatif dan berpikir secara mendalam. Contoh lain dari menulis adalah ketika mahasiswa membuat tulisan mengenai pembahasan suatu permasalahan yang terjadi, tentunya mahasiswa tersebut akan mulai membaca dan memahami permasalahan secara mendalam. Dengan begitu, dirinya mulai belajar berpikir secara menyeluruh ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan. Hal tersebut memiliki manfaat melatih pemikiran kritis komprehensif, kreativitas, dan pola pikir yang lebih dewasa.
Sekolah dan kampus dapat mendesain beberapa kegiatan yang menunjang untuk membudayakan literasi seperti kewajiban membaca buku non pelajaran 10 menit sebelum memulai pembelajaran, menyediakan buku-buku sastra dan buku-buku terbaru lainnya di perpustakaan, dan menyediakan mading/web/majalah sekolah untuk kegiatan publikasi menulis. Selanjutnya, Guru/Dosen menjadi fasilitator agar siswa dan mahasiswanya menulis.
Kegiatan literasi yang sudah dijalankan harus dijaga terus-menerus agar menjadi budaya generasi muda di sekolah dan kampus. Melalui budaya menulis yang diterapkan, para generasi muda akan terlahir dengan pemikiran yang dewasa, kreativitas yang tinggi, dan perilaku yang tentunya baik. Kenakalan-kenakalan yang banyak dilakukan pun perlahan akan menurun karena boleh jadi kenakalan yang banyak dilakukan disebabkan kurang dewasanya para anak muda dalam berpikir dan kurang tersalurkannya emosi serta sisi kreativitasnya. Inilah yang menjadi dasar mengapa generasi muda perlu berperan aktif dalam kegiatan literasi. Kegiatan Literasi memiliki korelasi yang positif dalam membentuk jati diri dan membentuk pola pikir yang lebih dewasa. Hal seperti itu akan terwujud andai saja menulis benar-benar dibudayakan.

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Duka Ibu Pertiwi (2)

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa

13.05.2020 | oleh Aditya Nugraha