Spiritualitas Lirik Tembang Sunda Cianjuran Wanda Rarancagan Tahajud (Analisis Semiotika Lirik Lagu Tahajud Karya Mang Bakang Abubakar)

Kontributor

Duta Bahasa Jawa Barat

Juru Foto

Dokumen Dubas Jabar

Deri Eka Firmansyah
Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Padjadjaran

 

Abstrak
Penelitian ini merupakan kajian analisis terhadap rumpaka atau lirik lagu dalam tembang sunda cianjuran yang berjudul Tahajud karya Bakang Abubakar dan kaitannya dengan spiritualitas. Penelitian ini berfokus pada analisis semiotika yang dibuat oleh Roland Barthes dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti memaknai lirik lagu melalui arti konotatif dan denotatif yang akhirnya akan menghasilkan mitos. Yang menjadi subjek dari penelitian ini adalah salah satu lagu dalam tembang sunda cianjuran yang diciptakan Bakang Abubakar seorang maestro tembang sunda cianjuran yang berjudul Tahajud yang disusun dalam pupuh Dangdanggula, lagu ini dimaknai sebagai lagu yang memiliki nilai spritualitas bagi orang Sunda. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa dalam tembang sunda cianjuran bukan hanya bersifat tontonan tetapi tuntunan karena memiliki unsur spiritualitas termasuk hubungan manusia dan tuhannya.
Kata kunci : Tahajud, Tembang, spritualitas, semiotik
Pendahuluan
Tembang sunda cianjuran merupakan sebuah kesenian yang berkembang di Jawa Barat, tembang sunda Cianjuran berkembang pada masa bupati Cianjur Raden Aria Adipati Kusumahningrat atau Dalem Pancaniti yang mengembangkan seni pantun menjadi tembang yang lebih dinamis. Kurnia (2003) menjelaskan Pada awalnya kesenian ini hanya berkembang seputar kadaleman, kemudian menyebar keseluruh Pasundan. Mulanya Tembang Cianjuran hanya dinyanyikan oleh kaum pria, putri hanya boleh menyanyi lagu panambih, namun menginjak abad ke-20 muncul para penembang wanita. Hingga saat ini, tembang sunda cianjuran dikategorikan dalam beberapa wanda  Papantunan, Jejemplangan, Dedegungan, dan Rarancagan sebagaimana telah diidentifikasi Wiraatmadja (1997). Masing-masing wanda memiliki karakteristik yang unik juga musikalitas yang berbeda bersandar pada empat laras utama dalam karawitan sunda pelog, sorog, mandalung dan salendro. Pagelaran tembang sunda cianjuran biasanya diiringi oleh kecapi indung, kecapi rincik¸suling dan rebab juga penembang perempuan dan laki-laki.
Adapun dalam penelitian ini wanda tembang cianjuran yang akan dianalisis adalah   jenis tembang yang liriknya merupakan bentuk pupuh yaitu jenis rarancagan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ischak (2006) yang menyatakan bahwa jenis rarancagan terikat oleh aturan pupuh dan lebih didominasi oleh pupuh sekar ageung yaitu pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula. Judul lagu yang menjadi subjek penelitian ini adalah lagu Tahajud yang dilirik dan lagunya diciptakan oleh maestro tembang sunda cianjuran Bakang Abubakar. Lagu tahajud dibuat dalam aturan pupuh dangdanggula direkam pada tahun 1978 melalui suara Euis Komariah  seperti yang dijelaskan oleh Ischak (1988). Lagu tersebut mencitrakan seseorang yang sedang bersujud memohon ampunan tuhan, oleh karena itu penelitian ini  akan menganalisis relasi lagu dan spiritualitas yang ada dalam lirik lagu tersebut. Lagu tahajud dipilih karena diangggap mampu merefleksikan spiritualitas dalam tembang sunda dan tembang bukan hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga pesan-pesan ketuhanan.
Tahajud
Lirik dan Lagu : Mang Bakang Abubakar
Pupuh               : Dangdanggula
Laras                : Sorog
Tahun                : 1978
 
a.    Tengah peuting sedeng jemplang-jempling
Uwung awang keur ilang dangiang
Tiis dingin réhé combrék
Mahluk nuju menekung
Nyambat-nyambat ilahi robi
Gusti nu murbéng alam
Sim abdi sumujud
Tur pinuh karumaosan
Dosa abdi teu wasa ngawincik deui
Tina ageung-ageungna
Gusti, abdi seja tobat
 
b.    Margi kitu maksad abdi gusti
Da gusti mah sifat maha welas
mugi ngahapunten baé
sareng abdi piunjuk
bade tumut pangersa gusti
sumembah salalamina
siang wengi sujud
mugi taufik hidayah
dilimpahkeun ka abdi
gusti nu laip, hoyong husnul khotimah
gusti, mugi ngaijabaj (tambihan)
 
        
 

Kajian Pustaka
Seperti sudah diulas dalam latar belakang cianjuran merupakan sebuah seni suara yang berkembang di Jawa Barat yang diiringi Kecapi indung, kecapi rincik, suling, rebab dan penembang, tembang sendiri menurut kamus Basa Sunda Satjadibrata (2008) tembang merupakan sebuah kegiatan menyanyi dengan aturan pupuh atau nembang. Sedangkan menurut Hendrayana (2016) tembang adalah seni suara sunda yang menjadi bagian dari kawih yang memiliki sifat irama merdika atau tidak terikat oleh ketukan dari musik. Lirik dalam tembang terdiri dari dua jenis yang pertama merupakan puisi bebas yang kedua adalah guguritan atau dangding puisi dalam aturan pupuh.
Karena dalam penelitian ini akan dianalisis lagu tahajud yang merupakan lagu dari wanda rarancagan  liriknya pun dibangun oleh guguritan atau pupuh, menurut Rosidi (2011) guguritan merupakan puisi sunda yang dipengaruhi  oleh Mataram memiliki aturan-aturan tertentu dan terdiri dari 17 pupuh termasuk pupuh yang paling sering dilantunkan adalah kinanti, asmarandana, dangdanggula . Guguritan sangat erat kaitannya dengan tembang sunda cianjuran khususnya dalam wanda rarancagan   yang liriknya dibuat dalam aturan pupuh. Hendrayana (2016) menjelaskan bahwa pupuh memiliki sifat dalam membawakannya ada yang sedih, gembira, agung, dan lucu begitu pula dalam pupuh dangdanggula yang menjadi lirik lagu tahajud memiliki sifat agung, hal tersebut sangat sesuai dengan isi lirik tahajud mengenai keagungan tuhan.
Untuk memahami makna dalam lirik lagu tahajud akan digunakan semiotika untuk menganalisis tanda-tanda dalam lirik tersebut. Semiotika adalah Ilmu yang membahas mengenai tanda adalah Semiotika atau semiologi sebuah ilmu yang merujuk pada tanda, sinyal, kode dan bahasa dan melalui proses-proses tersebut kita dapat memandang bahwa fenomena masyarakat sebagai sebuah rangkaian tanda yang mengandung tanda. Hoed (2014) mengutip pernyataan Pierce yang menyatakan bahwa tanda terjadi karena suatu proses yang disebutnya semiosis. Proses itu dimulai dengan masuknya proses masuknya unsur tanda yang berada di bagian ‘luar’ ke dalam indra manusia, yaitu representamen atau ground, yang mungkin dapat dibandingkan dengan penandanya Saussure. Jika proses pengindraan sudah terjadi maka proses selanjutnya di dalam kognisi manusia adalah pengacuan pada apa yang disebutnya object, yakni hal (makna) yang diwakili oleh representamen.
Dalam penelitian ini lirik lagu tahajud teori semiotika yang digunakan adalah yang dikembangkan oleh Roland Barthes yang menunjukan makna konotasi, makna denotasi dan mitos. Makna konotasi menurut Barthes (2010) merupakan makna tersembunyi imaji yang ditunjukan oleh muatan budaya, moral dan imajinasi. Konotasi bekerja dalam tingkat subjektif sehingga kehadirannya tidak disadari. Piliang (2003) menjelaskan Konotasi sebuah tanda selalu berkaitan dengan kode nilai, makna sosial serta berbagai perasaan, sikap atau emosi yang ada. Sedangkan makna denotasi merupakan makna yang terungkap atau makna sebenarnya. Barthes (2010) menjelaskan bahwa denotatif merupakan imaji literal dalam keadaan telanjang atau polos. Makna denotatif bersifat mutlak analogis dan pesan tanpa kode dimakna sesuai dengan apa yang terlihat. Pilian (2003) berargumen bahwa denotatif merepresentasikan mitos budaya(cultural myth), seperangkat kepercayaan dan sikap yang dianggap benar oleh pembaca teks. Makna denotatif dan konotatif akhirnya bermuara pada mitos budaya, Hoed (2014) mengutip pertanyaan Barther yang menunjukan kebudayaan massa konotasi terbentuk oleh kekuatan mayoritas atau kekuasaan yang memberikan konotasi tertentu pada suatu hal sehingga lama-kelamaan menjadi mitos. Hoed (2014) mengutip kembali pernyataan Barthes berkaitan dengan mitos yang memiliki makna khusus sesuai dengan konotasi yang diberikan oleh komunitas tersebut. Bisa disimpulkan bahwa konvensi dari konotasi pada sebuah masyarakat akhirnya menjadi mitos pada budaya massa.     
    Selain itu pemaknaan spiritual akan dijelaskan dalam penelitian ini, seperti yang diungkapkan oleh Zanten (1989) maupun cianjuran merupakan musik sekuler dengan kebanyakan liriknya tentang percintaan bentuk, sebenarnya bentuk dari lirik tembang sunda cianjuran mengarah kepada pengertian terhadap esensi kehidupan. Masih menurut Zanten (1989) tembang sunda cianjuran merupakan bagian jalan mistis atau berarti proses komunikasi  melalui dunia metafisis. Tembang sunda cianjuran dianggap oleh Zanten (1989) memberikan kesan yang menimbukan proses transenden dan bagian dari ritual, hal ini menunjukan bahwa tembang sunda cianjuran bukan hanya sekadar tontonan tetapi tuntunan kehidupan.
Spiritualitas antara semiotika dan teks dapat dimaknai sebagai suatu hal yang berkaitan. Pemaknaan Barthes terhadap spiritualitas berkaitan dengan teorinya dengan dua tingkatan yaitu tingkatan bahasa, mitos dan ideologis. Piliang (2003) menyatakan pada tingkatan bahasa, kesatuan antara penanda dan petanda membentuk tanda, pada tingkatan kedua, tanda pada tingkatan pertama tadi menjadi petanda baru, yang melalui kesatuannya dengan petanda baru membentuk tanda. Piliang (2003) menjelaskan bahwa makna pada tingkat bahasa (semiotika) bersandar pada sistem makna pada tingkat ideologis, dengan segala kode-kodenya yang telah melembaga berdasar batas epistimologisnya termasuk kode ideologis.   
Selain itu dalam pemaknaan spiritualitas yang berkaitan dengan spiritualitas adalah proses membaca suatu teks menurut Derrida (2002) pembaca mengadakan pemisahan antara membaca teks atau tulisan; dan membaca sang penulis yang berdiri bersembunyi di balik teks atau tulisan yang disebut metafisika-kehadiran atau atau kehadiran-metafisik, atau kehadiran –sang gaib yang harus dikritisi ialah kekerasan, intervensi, atau tendensi kehadiran sang-gaib dan kawan-kawannya. Pengalaman spiritual seperti ini merupakan tanda-tanda semiotik yang berkaitan dengan tanda-tanda yang ditunjukan sesuai dengan interpretasi penulis terhadap spiritualitas yang terjadi pada dirinya.
    
Pembahasan dan Hasil
Penjabaran lirik tembang sunda cianjuran Tahajud adalah sebagai berikut:
Subjek penelitian    Denotasi    Konotasi     Mitos
Tengah peuting sedeng jemplang-jempling
Uwung awang keur ilang dangiang
Tiis dingin réhé combrék
Mahluk nuju menekung
Nyambat-nyambat ilahi robi
Gusti nu murbéng alam
Sim abdi sumujud
Tur pinuh karumaosan
Dosa abdi teu wasa ngawincik deui
Tina ageung-ageungna
Gusti, abdi seja tobat    Tengah malam ketika sepi dan hening
Angkasa kehilangan wibawa
Dingin sunyi dan sepi lirih
Mahluk sedang berdo’a
Memanggil-manggil ilahi robi
Tuhan penguasa alam
Aku bersujud
dengan penuh kesadaran
Dosaku tak bisa dihitung lagi
Dari sebesar-besarnya (dosa)
Tuhan, aku ingin bertaubat
    Malam ketika semua sudah tertidur ketika malam hari sudah gelap. Waktu tersebut seringkali digunakan untuk melaksanakan ibadah salat tahajud, berdoa, menyebut memanggil nama tuhan dalam segenap do’a sebagai permohonan ampun dari segala dosa yang pernah dilalui dan diperbuat. Dalam segenap kesadaran setiap mahluk memohon ampunan dan bertaubat kepada tuhan.       Malam diibaratkan sebagai sebuah waktu dimana kita merasa sendirian dalam keramaian. Salat tahajud dalam konteks islam dilaksanakan pada malam hari setelah salat isya dan diharuskan tidur terlebih dahulu. Manusia yang berdo’a merendahkan diri dihadapan tuhan untuk memohon segenap ampunan. Malam dijadikan waktu yang tepat untuk berdo’a sehingga  kita dalam kita melakukan komunikasi dengan tuhan dirasa lebih akrab karena tidak diganggu keadaan di sekeliling sehingga lebih konsentrasi.
Margi kitu maksad abdi gusti
Da gusti mah sifat maha welas
Mugi ngahapunten baé
Sareng abdi piunjuk
Bade tumut pangersa gusti
Sumembah salalamina
Siang wengi sujud
Mugi taufik hidayah
Dilimpahkeun ka abdi
Gusti nu laip, hoyong husnul khotimah
Gusti, mugi ngaijabaj (tambihan)
    Karena itu maksudku ya tuhan
Dirimu yang maha kasih
Semoga memaafkan
Dan beri aku petunjuk
untukku taat kepadaMu
Menyembah selamanya
Bersujud siang dan malam
Semoga taufik dan hidayah
Diberikan padaku
Gusti (diriku) yang hina dan ingin khusnul khotimah
Semoga (doaku) dapat terkabul
    Permohonan ampun dan maaf kepada yang maha kuasa atas segala kasih yang selalu memberi maaf dan ampunan kepada umatnya yang selalu menyembah dan taat kepadaNya. Bersujud pada waktu salat  dilakukan dari terbitnya hingga tenggelamnya matahari merupakan sebuah manifestasi keinginan kehidupan yang lebih baik maupun keadaan diri yang penuh kehinaan tetapi ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.     Salat dijadikan sebuah sarana permohonan segenap do’a dan pertaubatan mahluk kepada tuhan. Selain itu manusia memohon taufik dan hidayah  kepada tuhan sehingga dalam kehidupan diberkati oleh tuhan. Tak ada lain dalam kehidupan adalah selama hidup berlaku baik , ketika mati dalam keadaan mulia dan mendapatkan kebahagiaan di kehidupan setelah kematian.

 

Lagu dan lirik yang diciptakan oleh R. Bakang Abubakar. Karya seni ini secara utuh yang terdiri dari verbal dan nonverbal tergolong karya seni monumental. Ada dua bait yang biasa ditembangkan dalam sebuah sesi tembang sunda cianjuran melalui lagu tahajud  ini, kedua bait terdapat  bait pertama menggambarkan alam dalam keadaan sunyi senyap, dingin, ada seorang makhlukyang memanggil-manggil Ilahi Robbi - Tuhan Penguasa Alam. Adapun makna konotatif dalam lirik bait pertama menggambarkan Malam ketika semua sudah tertidur ketika malam hari sudah gelap. Waktu tersebut seringkali digunakan untuk melaksanakan ibadah salat tahajud, berdoa, menyebut memanggil nama tuhan dalam segenap do’a sebagai permohonan ampun dari segala dosa yang pernah dilalui dan diperbuat. Dalam segenap kesadaran setiap mahluk memohon ampunan dan bertaubat kepada tuhan.   Mitos yang muncul dalam lagu tahajud Malam diibaratkan sebagai sebuah waktu dimana kita merasa sendirian dalam keramaian. Salat tahajud dalam konteks islam dilaksanakan pada malam hari setelah salat isya dan diharuskan tidur terlebih dahulu. Manusia yang berdo’a merendahkan diri dihadapan tuhan untuk memohon segenap ampunan. Malam dijadikan waktu yang tepat untuk berdo’a sehingga  kita dalam kita melakukan komunikasi dengan tuhan dirasa lebih akrab karena tidak diganggu keadaan di sekeliling sehingga lebih konsentrasi.
Selanjutnya lirik dalam lirik kedua memiliki makna memohon kepada Penguasa Alam. Adapun doa tersebut; memohon ampunan dari dosa-dosa besar, akan tunduk kepada kehendak-Nya, mendapat taufik hidayah, dan memohon khusnul khotimah. Makna konotatif yang muncul pada bait kedua menggambarkan permohonan ampun dan maaf kepada yang maha kuasa atas segala kasih yang selalu memberi maaf dan ampunan kepada umatnya yang selalu menyembah dan taat kepadaNya. Bersujud pada waktu salat  dilakukan dari terbitnya hingga tenggelamnya matahari merupakan sebuah manifestasi keinginan kehidupan yang lebih baik maupun keadaan diri yang penuh kehinaan tetapi ingin meninggal dalam keadaan yang mulia. Sedangkan mitos yang muncul dalam lirik di bait kedua Salat dijadikan sebuah sarana permohonan segenap do’a dan pertaubatan mahluk kepada tuhan. Selain itu manusia memohon taufik dan hidayah  kepada tuhan sehingga dalam kehidupan diberkati oleh tuhan. Tak ada lain dalam kehidupan adalah selama hidup berlaku baik , ketika mati dalam keadaan mulia dan mendapatkan kebahagiaan di kehidupan setelah kematian.
Teks ini dipandang dari sudut arti sebagai satu rangkaian informasi, tentang
permohonan kepada Tuhan. Dalam lirik lagu tahajud digambarkan hubungan intim antara ciptaan dan penciptanya, sehingga dipilih waktu yang tepat untuk memohon ampunan pada yang maha kuasa. Pengalaman spiritual yang dirasakan oleh Mang Bakang Abubakar ingin dibagikan dan dirasakan juga oleh apresiatornya, maupun tentu akan berbeda pada setiap individunya. Pengalaman spiritual lainnya yang dapat dirasakan adalah kedekatan emosional pengguna bahasa sunda dengan tuhan karena lewat lagu ini do’a dengan stigmasi tertentu diruntuhkan dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kita yaitu budaya.  

Simpulan
    Simpulan dalam penelitian ini membuktikan bahwa lirik tembang sunda cianjuran tahajud karya Mang Bakang Abubakar mampu menunjukan nilai-nilai spiritualitas dengan landasan dan pandangan hidup orang Sunda. Penderitaan dan kehinaan merupakan jalan mulia ketika kita berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan dengan berkat tuhan. Tembang sunda cianjuran pun bukan hanya sekadar sebuah tontonan yang menarik tetapi juga tuntunan dalam kehidupan, penanda dan petanda yang melekat pada lirik tembang sunda cianjuran tahajud memberikan impresi dan pengalaman spiritualitas  yang berbeda bagi penyaji dan apresiatornya.
Daftar Pustaka
Barthes, Roland (2010) Imaji/Musik/Teks. Yogyakarta: Jalasutra  
Derrida, Jacques (2002) Dekonstruksi Spritual. Merayakan Ragam Wajah Spirtual. Edisi
Kedua. Alih bahasa oleh: Firmansyah Agus. Dari judul asli buku:
Off Spirit: Heidegger and the Question. Yogyakarta: Jalasutra.
Hendrayana, Dian. (2016) Serat Keur Emay. Bandung: Kiblat Buku Utama
Hoed, Benny H. (2014) Semiotik & Dinamika Sosial Budaya Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Pierce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll. Depok: Komunitas Bambu.  
Ischak, C. Aah (1988) Mang Bakang dan Tembang Cianjuran. Bandung : Binakarya..
Ischak, A. (2006). Mengenal Tembang Sunda Cianjuran. Cianjur: Liebe Book Press

Kurnia, Ganjar & Arthur S. Nalan. (2003) Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Diterbitkan
atas kerjasama Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat & Pusat Dinamika Pembangunan UNPAD. dan Paguyuban Pasundan Cianjur.
Piliang, Yasraf Amir. (2003) Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra
Rosidi, Ajip (2011) Guguritan. Bandung: Kiblat Buku Utama
Satjadibrata. R (2008) Kamus Basa Sunda. Bandung : Kiblat Buku Utama
Wiraatmadja, Apung S..(1997) Mengenal Seni Tembang Sunda. Bandung: Iptek.
Zanten, Wim Van. (1989) Sundanese Music in the  Cianjuran Style. Holland: Foster Publication

Shaqilla Maharani

Tiada rindu berpesan pada lagu
Hanya kasih bersiulan menghujam kalbu

Mataku dibakar cemburu,
Tak pernah dirimu bergantung disitu
Sedang di hati kau enggan berlalu

Entah di mana kau wanitaku. Menanya angin yang

31.08.2020 | oleh Aditya Nugraha

Tunggara Yuda

(Haturan sinatria perlaya ing ayuda)

                   I
Galur catur, kocap carita
Aya nusa karta raharja
Emas inten sarwa réa
Pulona para déwata
Swargaloka

31.07.2020 | oleh Aditya Nugraha

Rumah Paling Membosankan Di Bumi

Katamu dalam hati, rumah itu paling membosankan di bumi
Tapi mengapa, di ujung rantaumu, kau selalu balik layar?

Katamu dalam hati, rumah itu paling biasa di bumi
Tapi kenapa tenangmu selalu

24.06.2020 | oleh Aditya Nugraha

Duka Ibu Pertiwi (2)

Perih Sang Ibu Pertiwi merintih
Raut wajahnya tampak pucat pasi
Tak ada senyum seri bersemi
Tak ku lihat lagi anak-anak berlari

Sujud kami sudah tak terhitung lagi
Karena raga tak bisa

13.05.2020 | oleh Aditya Nugraha